Balada Wanita Pedagang Sayur

Perjuangan adalah milik sejati para wanita pedagang sayur di pasar.
Bangun tak kurang dari jam tiga pagi. Memanggul sayur satu goni lima puluh kilogram pada
kepalanya yang terbungkus kain panjang bekas. Terkadang ditambah satu keranjang
di tangannya. Menggelarnya sedikit di tengah jalan tempat biasanya kendaraan
lalu lalang di siang hari. Merokok demi mengusir dinginnya hawa dini hari. Atau
sibuk menata dagangannya agar tak terlalu ke tengah jalan. Pagi mulai bersinar,
matahari semakin tinggi. Dagangan yang belum habis perlahan-lahan diobral. Agar
tak sampai memenuhi bahunya lagi kala ingin pulang. Atau menjadi sampah karena
ditendangi anggota kotapraja. Bertengkar sedikit dengan sesama pedagang sudah
menjadi makanan hampir setiap hari. Dan tatkala kotapraja datang,
terbirit-birit membungkus dagangannya ke dalam goni kumal. Atau sekedar
menggesernya ke tepi jalan, tempat air comberan hasil hujan satu malam masih
menggenang. Tanpa bedak, tanpa make up. Terkadang malah lupa memakai pakaian
dalam karena bangun kesiangan dan bergegas menggeret dagangannya. Sementara
anak mereka tinggalkan di rumah, mungkin belum mandi, atau malah belum
mengerjakan pe-ernya, karena sang ibu terlalu lelah tadi malam. Tak sempat
mengajarinya.

Sayur terkadang mahal, terkadang murah, terkadang biasa saja. Tapi para wanita
pedagang sayur tak mengenal untung banyak, sedikit atau biasa saja. Mereka
tetap kekurangan walau hanya untuk membeli sepatu yang layak bagi sekolah
anaknya. Tetap harus menghela napas, sesudah menghitung penghasilan dan
menghitung hutang pada pemasok sayurnya. Terkadang mungkin mereka bertanya,
sampai kapan aku begini?

Seks bagi mereka mungkin hanya sebagai tugas rutin yang harus dijalani
dua atau tiga hari sekali. Mana mungkin bisa menikmati bila tubuh terasa remuk
redam dan memikirkan dua atau tiga jam lagi harus bangun dan memulai
perjuangan? Bahkan mungkin pujian dari suami tak lagi didapatkan. Karena dia
selalu lusuh sepanjang hari. Rambut terikat seadanya dan bedak tak pernah mau
mampir ke pipinya. Umur perlahan-lahan bertambah, tapi raut muka seakan berlari
mengejar waktu. Tua sebelum waktunya.

Adakah sang suami mengerti bahwa istrinya adalah pejuang sejati? Adakah
dia tahu bahwa istrinya seorang pahlawan? Bukan hanya pahlawan bagi dirinya,
anaknya atau saudara dan keluarga lainnya, tapi bagi anak-anak lainnya yang
membutuhkan sayur itu. Suami-suami lain yang membutuhkan sambal untuk nasinya.
Istri-istri yang membu-tuhkan semua dagangannya untuk memuaskan hatinya, bahwa
dia telah menjadi istri terbaik yang bisa menghidangkan makanan enak dan sehat
untuk keluarganya. Tahukah sang suami si pedagang sayur itu, bahwa istrinya
perlu sesekali dimanja. Perlu dipuji bahwa dalam keadaan apapun, dia tetap
cantik. Secantik Luna Maya yang tak pernah meninggalkan lipstiknya, atau Dian
Sastro dengan senyum lembutnya. Bahwa dia tak sempat mendandani dirinya sendiri
karena 24 jam itu tak pernah cukup untuknya berbakti. Dan bahwa dirinya masih
ingin membuktikan pada dunia, bahwa dia masih berarti secara sosial.

Pejuang sejati adalah para wanita pedagang sayur mayur di pasar. Tak
pernah letih menjalankan kewajibannya, tak pernah protes akan hidupnya. Dan tak
pernah menuntut apa-apa atas nasibnya, selain berdoa dan berharap, kehidupan
akan membaik di masa depan. (Deen)

5 thoughts on “Balada Wanita Pedagang Sayur

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s